Ngerumpi liar dengan net send

September 4, 2007

Salah satu layanan instant messaging yang populer dalam jaringan berbasis Windows adalah net_send.

Layaknya instant messaging, pengguna net send mendapatkan suasana yang lebih santai (less formal) dibanding email atau telpon. Untuk menanyakan “makan dimana?” atau “pinjam uangnya goceng dong!” net send akan lebih pas dibanding email atau telpon.

Sayangnya kenyamanan dalam net send seringkali membuat orang menjadi lupa diri, merasa bahwa itu adalah ruang tersembunyi yang tidak akan diketahui orang, hingga hilanglah tata krama dan rasa tanggung jawab dalam bertukar informasi. Perbincangan berkembang dari menggunjing menjadi menghujat atau mengembangankan imajinasi liar membayangkan kawan wanita di seberang mejanya sebagai obyek fantasi mesum, misalnya seperti ini:

Message from BAGONG to TOGOG on 8/13/2007 4:41:18 PM

ahu pe Lae molo ndung pansiun ikkon huboan check in boru2 na bagak i he.he.e dht boru na dilambung ni si gelleng na di cxxxx i he.he.he

Andai saja Pak Bagong tahu, bahwa pesan yang dia kirim ke si Togog itu akan tersimpan di event_viewer, yang saat komputer Togog bermasalah maka administartor akan memeriksa event_viewer tersebut dan bisa saja dia menemukan pesan dari si Bagong itu. Alangkah malunya Pak Bagong, bahwa di balik sikapnya yang sangat santun, berwibawa dan kebapakan, ternyata menyimpan obsesi liar pada wanita-wanita yang terkesan tidak beliau sukai.

Mungkin Pak Bagong mengira bahwa begitu si Togog menekan tombol enter, maka pesan yang dia kirimkan ke Togog sudah ilang, dan dia toh sudah menyandikan pesannya dengan bahasa yang dia kira tidak semua orang tahu. Padalah pesan tersebut tersimpan dalam sebuah file di folder system32 dan dengan mudah pesan itu bisa dikirim ke orang yang asli dari batak, atau ramai-ramai dibahas di arisan .

Lalu, coba anda bayangkan pesan provokatif seperti ini

Message from BAGONG to TOGOG on 7/23/2007 2:29:03 PM

provokatori si Axxxx Lae, boasa dang dohot ho di boan meeting ninna Lae. Ai holan si Tungkik dht si Rxxx do ditogihon si gelleng meeting

 

Dengan posisinya sebagai atasan, orang tololpun tahu kalau Pak Bagong sangat tidak layak berbicara seperti itu, memecah belah tim kerjanya, sedangkan dia menerima gaji karena kewajibannya mempersatukan tim kerja di bawah jajaran dia.

Meskipun Bagong dan Togog hanya tokoh fiktif, intinya, dengan net send, email, telpon atau media yang lain, pertukaran informasi selayaknya dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan santun

Iklan

Sekitar dua bulan yang lalu, anak saya, Rasha, mengalami demam cukup tinggi (39,5º C) selama beberapa hari. Biasanya jika dia demam akan disertai dengan tanda-tanda infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), seperti batuk dan pilek. Anehnya, waktu itu tanda-tanda tersebut tidak terlihat. Dokter Spesialis Anak (DSA) kami di RS Hermina Depok, menyarankan agar dilakukan uji laboratorium pada darah Rasha. Dan benar saja, berdasarkan hasil uji lab tersebut, terlihat bahwa kandungan leukosit dalam darah Rasha mencapai 23×109 per liter, normalnya kandungan leukosit dalam tubuh orang sehat berada pada rentang 4×109 hingga 11×109 per liter darah, angka hasil uji lab tadi menunjukkan tingginya tingkat infeksi pada tubuh Rasha. Saat itu DSA hanya menebak, kemungkinan infeksi tersebut terjadi pada ujung penis yang terlihat kemerahan, meski tanpa disertai pembengkakan yang umumnya menyertai infeksi. Selain itu, Beliau juga memerhatikan bahwa kulit di ujung penis anak kami susah terbuka dengan penarikan normal. Beliau menyarankan agar kami secara rutin menarik (pelan-pelan) kulit tersebut sampai bisa terbuka lebih besar.

Hal serupa terjadi lagi pada sekitar dua minggu yang lalu, Rasha demam tanpa disertai batuk dan pilek. Bedanya kali ini DSA kami lebih yakin dengan diagnosanya, Beliau menyatakan bahwa Rasha mengalami fimosis. Selanjutnya kami disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah Anak, jika diperlukan kami juga mesti mempersiapkan khitanan/sunatan. Oh ya, saya lebih suka mempergunakan istilah khitan yang artinya spesifik menunjuk pada dipotongnya kulit diujung penis, daripada sunat yang artinya lebih umum. Dalam Islam, khitan memang sunat, puasa senin kamis juga sunat, sholat qablah dan ba’diah yang menyertai sholat wajib yang lima waktu juga sunat, dan masih banyak lagi amalan-amalan lain yang termasuk kategori sunat, selain hanya khitan.

Kembali ke topik, menurut DSA; jika fimosis ini dibiarkan maka kotoran-kotoran yang tertinggal di ujung penis akan sering menimbulkan infeksi, akibatnya anak menjadi lebih sering demam dan nafsu makannya akan turun, ujung-ujungnya ini bisa mengganggu masa pertumbuhan si anak. Di salah satu artikel, fimosis pada bayi atau anak kecil ini adalah hal yang lazim, bahkan di Jepang, fimosis ditemukan pada 88% bayi yang berusia 1 hingga 3 bulan dan 35% pada balita berusia 3 tahun. Pada artikel lainnya, saya temukan bahwa fimosis ini bisa disembuhkan dengan bantuan penarikan kulit ujung penis secara rutin, beberapa diantaranya bahkan dibiarkan saja karena akan menghilang sendiri seiring dengan tumbuhnya si anak. Khitan atau sirkumsisi adalah usaha terakhir dalam mengatasi fimosis. Tapi kami (terutama istri saya) tidak berani mempertaruhkan kesehatan Rasha, dengan menyandarkan pada informasi-informasi tersebut dan membiarkan anak saya begitu saja, buat anak kok coba-coba ™.

Hari Senin, 20070709, kami mengunjungi Dokter Spesialis Bedah Anak di RS yang sama. Kesimpulan dari hasil pengamatan dokter tersebut semakin memperkuat kesimpulan DSA sebelumnya tentang terjadinya fimosis pada anak kami. Selanjutnya Beliau menyarankan agar dilakukan khitan untuk mengatasi fimosis tersebut. Kami setuju, lalu Pak Dokter menjadwalkan khitanan untuk Rasha pada hari kamis, 20070712. Sebelum khitan, Beliau meminta kami melakukan test darah pada anak kami, sebagai salah satu prosedur pra operasi, dan meminta kami berkonsultasi dengan spesialis anestesi pada hari berikutnya.

Besoknya, pada hari Selasa pagi kami berkunjung pada dokter spesialis anestesi, sekalian kami mengambil hasil test darah di laboratorium RS Hermina Depok. Dalam pertemuan tersebut, Pak Dokter menjelaskan bahwa dalam khitan nanti, pada anak kami akan dilakukan pembiusan total, juga disampaikan bahwa kami mesti siap jika setelah Rasha sadar dari pembiusan nanti dia akan sangat rewel, menangis terus menerus selama sejam, tapi itu semua adalah normal. Saya sempat khawatir mendengar kata “pembiusan total” yang akan dilakukan pada Rasha, sebab saya menemukan artikel di arsip milis dokter_umum yang menyatakan bahwa seorang anak meninggal, tidak pernah sadar lagi dari pembiusan saat dia menjalani khitanan. Tapi saya tidak punya pilihan lain, sebab menurut Pak Dokter, bius lokal hanya boleh dilakukan jika usia anak sudah lebih dari 6 tahun.

Hari yang ditentukan tiba, Kamis 20070712 mulai jam 11.00 asupan makanan dan minuman untuk Rasha sudah dihentikan, dia wajib puasa mulai 4 jam sebelum operasi. Siangnya kami berangkat ke RS Hermina Depok. Kurang lebih jam 15.00, Rasha digendong ibunya memasuki ruang bedah, saya bersama beberapa saudara dan anak saya yang besar, Avin di ruang tunggu depan. 3 menit kemudian istri saya keluar, katanya dia hanya diperkenankan menjaga sampai Rasha terbius. Proses pengkhitanan sendiri berlangsung kurang lebih 15 menit, setelah itu Rasha dipindah ke ruang pemulihan.

Di ruang pemulihan istri saya menjaga Rasha, dia duduk di bed dan Rasha tidur di pangkuannya. Sementara saya dan saudara-saudara yang lain bergiliran melihatnya. Saat Rasha mulai sadar, dia langsung menangis keras, sepertinya dia tidak mengenali kami, orang tuanya, sampai beberapa waktu. Yang merepotkan, dia sering meronta-ronta, sedangkan di tangan kirinya dipasangi selang infus. Setelah 30 menit menangis dia tertidur kembali. Saat terbangun dia menangis lagi, tapi kali ini dia sudah mulai bisa merespon bujukan kami, kami lega.

Kurang lebih jam 17.30, setelah saya bereskan semua urusan administrasi, kami pulang. Malam itu hampir setiap sejam sekali dia terbangun dan menangis, tangisannya lebih keras ketika menjelang pipis. Saat dia menangis kami bergantian meniup bagian yang dijahit, sampai dia terlihat lebih tenang dan tertidur kembali.

Saya tidak tega melihat bayi saya merasakan sakit malam itu. Hari itu saat dikhitan usia dia belumlah genap 11 bulan, saya sendiri dulu dikhitan pada usia 12 tahun. Saran saya, jika anak anda masih bayi, janganlah dikhitan tanpa alasan medis yang dibenarkan. Tunggulah sampai dia berusia di atas 6 tahun dan niat untuk khitan datang dari dia sendiri. Di kalangan masyarakat ada yang pro dan kontra mengenai khitan, secara ilmiah mereka mempunyai argumentasi yang sama-sama kuat.

Hari ini Rasha saya sudah pulih, dia sudah mulai memanjat-manjat railing di tangga dan balkon rumah kami. Mudah-mudahan setelah ini dia tidak akan demam-demam yang seperti dulu lagi.

a similar circumcision story